Laman

Tampilkan postingan dengan label OpiniKu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OpiniKu. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2013

Fitnah itu Seperti Bulu Ayam Yang Ditebar

Alkisah, seorang pemuda berkonsultasi kepada seorang bijak. Pemuda itu mengaku bersalah karena telah menyebar fitnah terhadap seseorang yang belakangan terbukti tidak melakukan kejelekan seperti yang dituduhkan. Ia menanyakan bagaimana cara memperbaiki kesalahannya dan dihindarkan dari dosa atas perbuatannya.

Sang bijak lalu melangkah ke belakang rumah, mengambil sekeranjang bulu ayam dan membawanya ke hadapan pemuda itu. Lalu berpesan, “Bawalah bulu ayam ini lalu Anda sebarkan sedikit demi sedikit hingga habis ke berbagai penjuru desa.”

Sabtu, 20 April 2013

Sisi Lain "Habis Gelap terbitlah Terang"


Buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" yg selama ini kita kenal sebagai kumpulan surat2 RA. Kartini, sebenarnya masih misterius alias diragukan keasliannya. Diduga naskahnya hasil rekayasa J.H Abendanon yg menjabat Menteri Kebudayaan Agama dan Kerajinan pada Pemerintahan Hindia Belanda. Tujuannya adalah politik utk mengambil hati bangsa Indonesia. Selain itu, ada misi terselubung karena JH. Abendanon adalah seorang orientalis. Penting diketahui bahwa sampai saat ini NASKAH ASLI SURAT2 RA. KARTINI TIDAK DITEMUKAN. Keturunan JH. Abendanon pun tidak diketahui kebeadaannya. 
Hal lain yg PENTING DICERMATI, selama ini kita menganggap buku yg diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap MENUJU CAHAYA” lalu digubah oleh Armijn Pane menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"... adalah EMANSIPASI WANITA. BENARKAH?

Kamis, 20 Desember 2012

REVIEW PARADIGMA PENGAJARAN



AaL Kamil


Mencermati pola pengajaran, motivasi belajar dan hubungan materi pelajaran dengan skill, saya ingin membahas beberapa hal. Diawali dari perbedaan motivasi belajar yang sangat jelas antara siswa SLTA di sekolah dengan di LPK. Dengan materi pelajaran praktek keterampilan yang sama, di LPK siswa belajar dengan penuh antusias, motivasi untuk memahami cukup tinggi. Sedangkan di sekolah hanya antusias saja. Itupun karena (mungkin) belajar praktek adalah sisi lain untuk mengurangi kejenuhan. Pada awalnya saya mengira bahwa motivasi besar siswa yang belajar di LPK karena perhitungan biaya besar dan masa belajar yang terbatas. Namun setelah dipelajari lebih lanjut, saya menyimpulkan lain. Di LPK, siswa sangat menikmati proses belajar karena mereka ”memahami untuk apa mereka belajar dan manfaat apa materi itu dipelajari”. Hal ini tentu berbeda dengan pengajaran di sekolah, terutama di tingkat SLTP dan SLTA atau bahkan di Perguruan Tinggi.