Laman

Senin, 15 Juli 2013

Spirit Luar Biasa dari Penakluk Himalaya

SIR EDMUND HILLARY, lahir di Auckland Selandia Baru tahun 1919. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai manusia pertama yang mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Himalaya (berada di antara Tibet dan Nepal). Namanya hingga kini laksana sebuah legenda yang tak pernah mati. Atas prestasinya, ia menerima penghargaan dari ratu Elizabeth II. Edmund berhak atas gelar SIR, gelar yang hanya disandang oleh para pemberani yang berhasil menyumbangkan sesuatu untuk kejayaan kerajaan Inggris. Ia adalah satu-satunya orang dengan karir non-politik yang dianugerahi gelar kebangsawanan Inggris.


Tapi apakah Hillary seorang yang luar biasa?

Di negaranya ia bekerja tak lebih hanya sebagai tukang penjaga lebah madu. Yang membawanya dalam catatan sejarah adalah PRESTASI BESAR, yang berawal dari IMPIAN BESARNYA. Ia beberapa kali mendaki Himalaya dan gagal, namun ia turun dan tetap tersenyum. Ia berkata, “Suatu saat aku akan menaklukanmu”. Ketika melakukan pendakian tahun 1953, ia tidak sendirian. Namun beberapa pendaki lainnya hanya mampu mencapai puncak selatan, kemudian turun. Ia juga bukan tidak tahu resiko besar yang menghadang. Karena beberapa tim pendaki kelas dunia yang pernah melakukan ekspedisi selalu mengalami kegagalan, bahkan kecelakaan sebelum mencapai puncak. Mereka juga pernah menyaksikan tulang-belulang manusia yang tewas karena tidak kuat menghadapi tantangan berat. Namun impian besarnya mengalahkan ketakutan terhadap resiko atau bahaya.

Dalam buku hariannya dia menulis, “DALAM LANGKAH-LANGKAH MEMBOSANKAN TAK TERLIHAT SESUATUPUN KECUALI LANGIT SEPERTI PUNCAK YANG TAK BERUJUNG. KAMI BERDIRI BERSAMA. ADA CUKUP TEMPAT BERDIRI DAN KAMI TELAH MENAKLUKAN EVEREST”

Teman Hillary, Jim Wilson mengatakan, “Kita semua memiliki mimpi, tetapi mimpi Ed adalah mimpi yang luar biasa dan dia mampu melakukannya.”
Hillary terus mendaki bersama seorang pemandu bernama Tenzing Norgay. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak Himalaya berketinggian 29.028 kaki diatas permukaan laut, tepat pukul 11:30 tanggal 29 May 1953.

Dalam detik-detik bersejarah, ada kisah menarik di sini. Saat itu keharuan menyelimuti sang pendaki. Ada helikopter yang membawa wartawan datang untuk mengabadikan petualangan Hillary dan Tenzing. Tenzing Norgay sebagai pemandu, lebih dahulu mendekati puncak. Kemudian ia mundur dan memberi tempat kepada Hillary, menandai sejarah prestasi mereka di puncak Himalaya.

Ada wartawan yang penasaran dengan tindakan Tenzing. Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter : Anda kan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?
Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia….
Reporter : Mengapa Anda lakukan itu??? Anda melepaskan sebuah kesempatan untuk menjadi sejarah!!!
Tenzing Norgay : Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya….. impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN nya. Dan kami sama-sama mencapai impian kami.

Keharuan mereka yang sangat luar biasa saat itu dapat terlihat dalam catatan yang ditulisnya. “Kekaguman, kebanggaan, dan perasaan lain bercampur menjadi satu. Ungkapan emosi yang wajar bagi orang pertama yang mampu berdiri di puncak tertinggi dunia, setelah banyak orang lainnya yang gagal.”

Setelah sukses mencapai puncak Everest, antara tahun 1955-1958 Sir Edmund Hillary bergabung dengan tim Ekspedisi Trans-Antarctic untuk pendakian didaerah selatan Polandia. Tahun-tahun berikutnya ia bergabung dengan beberapa tim ekspedisi, sampai akhirnya ia berhenti.

Walaupun ia tidak lahir dan besar di Nepal, namun Sir Edmund Hillary mengkonsentrasikan dirinya pada usaha-usaha kesejahteraan masyarakat Nepal. Di negara itu ia membantu program pengembangan sosial masyarakat Nepal, diantaranya membangun klinik pengobatan, rumah sakit, dan 17 sekolah.

Untuk memfasilitasi proyek ini dibangunlah 2 lapangan udara. Keberadaan lapangan udara secara langsung berpengaruh juga terhadap perkembangan sektor pariwisata. Saat itu Nepal mulai banyak dikunjungi turis dan para pendaki. Penduduk Nepal yang melihat peluang bisnis mulai membuka hutan dan mendirikan berbagai rumah singgahan untuk turis dan pendaki dilahan bekas hutan tersebut.

"Ketika dibiarkan hal tersebut jelas bisa menimbulkan kerusakan dan keseimbangan lingkungan" kata Hillary dengan sedikit cemas.

Oleh karena itu Sir Edmund Hillary segera mengambil insiatif menyarakankan agar pemerintah Nepal membuat undang-undang perlindungan hutan dan segera mengumumkan bahwa wilayah sekitar Himalaya adalah termasuk kawasan taman nasional yang harus dijaga kelestariannya. Namun karena faktor kurang pengalaman dibidang tersebut, pemerintah Nepal menolak usulannya. Namun Hillari tidak putus asa dengan menggunakan pengaruhnya di Selandia Baru, dia berhasil menekan pemerintah Selandia Baru untuk mengucurkan bantuan manajerial skill dan dana guna program kelestarian lingkungan hidup tersebut.

Setelah sukses dengan pendakian dan program sosial hijaunya di Nepal, memasuki masa tuanya Hillary mulai menerbitkan buku-buku catatan pendakian dan perjalanannya. Salah satunya adalah The Ascent of Everest, buku catatan pendakiannya yang di Amerika lebih ngetop dengan The Conguest of Everest. Kemudian pada tahun 1975 bibliografinya yang berjudul Nothing Venture, Nothing Win diterbitkan. Tahun 1979 ia kembali menerbitkan buku From The Ocean to The Sky, sebuah catatan perjalanannya menyusuri sungai Gangga di tahun 1977.

Dalam biografinya Nothing Venture, Nothing Win, ia mengatakan filosofi hidupnya yang sangat sederhana, "Petualangan dapat menjadi sesuatu yang luar biasa bagi orang yang memiliki kemampuan, seperti saya dalam menghargai diri.”

Terakhir kali Edmund Hillary mengunjungi Himalaya, pada April 2007 saat dia dan Elizabeth Hawley mengenang saat ekspedisinya di Himalaya dan bertemu dengan ekspedisi lain dari Kathmandu.  Setahun lalu dia bergabung dengan beberapa ilmuwan, terbang ke Antartika untuk perayaan 50 tahun didirikannya basis penelitian di Antartika.
Sir Edmund Hillary, meninggal pada 11 Januari 2008. Dalam wasiatnya, Edmund Hillary menginginkan abu jenazahnya ditebar di Pelabuhan Waitemata di utara kota Auckland, tempat ia tinggal.

Dalam pengumuman meninggalnya Hillary, Perdana Menteri Selandia Baru mengatakan, “Sir Ed adalah seorang Selandia Baru yang sederhana dan rendah hati. Tapi dia sangat luar biasa. Sangat heroik, karena tidak hanya mampu menaklukkan Everest, tetapi juga dapat terus hidup dengan kesederhanaannya. Seorang pendaki gunung legendaris, petualang ternama yang pernah hidup di Selandia Baru.”

Sir Edmund Hillary, telah wafat. Namun ia telah mewariskan semangat kepada anak bangsa di belahan bumi manapun. Spirit perjuangannya untuk mencapai impian, akan tetap dikenang. Ia juga meninggalkan jasa besar terhadap kesejahteraan masyarakat Nepal yang notabenenya tidak sebangsa dengannya. Ia memberikan pembelajaran bagi kita, bahwa untuk mencapai PRESTASI BESAR TIDAKLAH PENTING LATAR BELAKANG YANG LUAR BIASA. NAMUN YANG DIBUTUHKAN ADALAH IMPIAN BESAR DAN TINDAKAN BESAR. PRESTASI ITULAH YANG MENJADI LEGENDA, BUKAN YANG LAIN. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar